Kamis, 10 April 2014



Ukuran Pemusatan
Agar penyajian kumpulan data lebih mudah dipahami,statistika menyediakan metode penyusunan data dalam bentuk distribusi frekuensi,tapi distribusi frekuensi yang terbentuk masih mengandung banyak elemen. Padahal informasi yang kita dapatkan dari data akan lebih mudah dipahami agar dapat diwakili oleh satu nilai saja. Dalam statistika dikenal beberapa macam ukuran nilai pusat. Yang paling banyak digunakan adalah rata-rata hitung (Arithmatic mean),Median,Modus,Rata-rata tertimbang,rata-rata ukur,dan lain-lain.
a.         Pengertian Mean
Menurut Sudijono, Anas (2008:79), secara singkat pengertian tentang Mean dapat dikemukakan sebagai berikut: Mean dari sekelompok (sederetan) angka (bilangan) adalah jumlah dari keseluruhan angka (bilangan) yang ada, dibagi dengan kebanyakan angka (bilangan) tersebut. 
Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan contoh sebagai berikut: Misalnya seorang Siswa Madrasah Aliyah memiliki nilai hasil ulangan dalam bidang studi Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Pengetahuan Alam berturut-turut: 8, 9, 7, 4, 6, dan 5. Untuk memperolah Mean nilai hasil ulangan tersebut, keenam butir nilai yang ada itu kita jumlahkan, lalun kita bagi dengan banyaknya nilai tersebut, yaitu: (8 + 9 + 7 + 4 + 6 + 5) : 6 atau
    = 6,50
Jika keenam bilangan tersebut kita lambangkan dengan , , , ,  dan , sedangkan banyaknya nilai itu kita lambangkan dengan N, maka Mean dari keenam butir nilai tersebut adalah :

 =
Apabila kita rumuskansecara umum, maka:
 =
Atau dapat disingkat menjadi:
 =
Inilah rumus umum atau rumus dasar untuk mencari atau menghitung Mean. Sudijono, Anas (2008:76).
a.            Pengertian Nilai Rata-rata Pertengahan (Median)
Menurut Sudijono, Anas (2008:93), yang dimaksud dengan Nilai Rata-rata Pertengahan atau Median adalah suatu nilai atau suatu angka yang membagi suatu distribusi data ke dalam dua bagian yang sama besar. Dengan kata lain, Nilai Rata-rata Pertengahan atau Median adalah nilai atau angka yang di atas nilai atau angka tersebut terdapat 1/2N dan dibawahnya juga terdapat 1/2N. Itulah sebabnya Nilai Rata-rata ini dikenal sebagai Nilai Pertengahan atau Nilai Posisi Tengah, yaitu nilai yang menunjukkan pertengahan dari suatu distribusi data.

Disini pun kita berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu: (1) data tunggal yang seluruh skornya berfrekuensi 1, number of cases-nya merupakan bilangan gasal (ganjil), dan (2) data tunggal yang seluruh skornya berfrekuensi itu, number of cases-nya merupakan bilangan genap ( bukan bilangan gasal).
(i)   Mencari nilai rata-rata pertengahan untuk data tunggal yang seluruh skornya berfrekuensi 1 dan number of caess-nya berupa bilangan gasal.
Untuk data tunggal yang seluruh skornya berfrekuensi 1 dan number of cases-nya bilangan gasal (yaitu: M = 2m + 1 ), maka median data yang demikian itu terletak pada bilngan yang ke (n+1).
contoh : 9 orang mahasiswa menempuh ujian lisan dala mata kuliah teknik evaluasi pendidikan. Niali mereka adalah sebagai berikut: 65 75 60 70 55 50 80 40 30. Untuk mengetahui nilai berapakah yang merupakan Nilai Rata-rata Pertengahan atau Median dari kumpulan nilai hasil ujian tersebut, pertama-tama deretan itu kita atur mulai dari nilai terendah sampai nilai tertinggi:
30 40 50 55 60 65 70 75 80
kita lihat dalam deretan nilai di atas, bilangan ke-1 adalah 30, bilangan ke-2 = 40, bilangan ke-3 = 50, bilangan ke-4 = 55, bilangan ke-5 = 60, bilangan ke-6 = 65, bilangan ke-7 = 70, bilangan ke-8 = 75 dan bilangan ke-9 = 80. Karena N = 9, sedang rumus bilangan gasal adalah: N = 2n +1, maka 9 = 2n + 1
9 = 2n + 1
9 – 1 = 2n
n = 4
dengan demikian nilai yang merupakan nilai rata-rata pertengahan atau median dari nilai hasil ujian lisan tersebut adalah nilai ( bilangan) yang ke- ( 4 + 1 ) atau bilangan ke-5, yaitu nilai 60
(i)                 Mencari Nilai Rata-rata Pertengahan untuk Data Tunggal yang seluruh skor-nya berfrekuensi 1, dan Number of Cases-nya berupa bilangan genap
Untuk data tunggal dan seluruh skornya berfrekuensi 1 dan Number of Cases-nya merupakan bilangan genap (yaitu: N=2n), maka Median atau Nilai Rata-rata Pertengahan data yang demikian itu terletak antara bilangan yang ke-n dan ke-(n+1).
Contoh : tinggi badan 10 orang calon yang mengikuti tes seleksi penerimaan calon penerbang, menunjukkan angka sebagai berikut: 168 162 169 170 164 167 161 166 163 dan 165 cm.
cara mencari Nilai Rata-rata Pertengahan atau Mediannya sama seperti telah dikemukakan di atas, yaitu pertama-tama deretan angka itu terlebih dahulu kita atur berderet, mulai dari nilai terendah sampai nilai tertinggi.
Karena N = 10 (merupakan bilangan bulat), sedang rumus untuk bilangan bulat adalah : N = 2n, maka : 10 = 2n , n = 5
Jadi Median atau Nilai Rata-rata Pertengahan dari tinggi badan 10 orang peserta tes seleksi Calon Penerbang itu terletak antara bilangan ke-5 dann ke (5+1), atau antara bilaangan ke-5 dan ke-6. Dalam deretan angka-angka di atas, bilangan ke-5 adalah 165, sedang bilangan ke-6 adalah 166.
Jadi Mdn =  = 165,50
.  Modus (Mode)
a. Pengertian Modus
Menurut Sudijono, Anas (2008:105), modus umunya dilambangkan dengan Mo. Modus tidak lain adalah suatu skor atau nilai yang mempunyai frekuensi paling banyak; dengan kata lain, skor atau nilai yang memiliki frekuensi maksimal dalam distribusi data.
b.  Cara Mencari Modus
1) Cara Mencari Modus untuk Data Tunggal
Mencari modus untuk data tunggal dapat dilakukan dengan mudah dan cepat; yaitu hanya dengan memeriksa (mencari) mana di antara skor yang ada, yang memiliki frekuensi terbanyak. Skor atau nilai yang memiliki frekuensi terbanyak itulah yang kita sebut Modus.
Contoh:  Misalkan data tentang data 50 orang Guru Matematika yang tercantum pada tabel 3.7 dapat kita cari Modusnya sebagai berikut:
Tabel3.9. Tabel Distribusi Frekuensi untuk Mencari Modus dari Data yang Tertera Pada Tabel 3.7.
Usia (x)
f
31
30
29
28
Mo (27)
26
25
24
23
4
4
5
7
(12)= f maksimal
8
5
3
2
Total
50=N

Modus untuk data di atas adalah usia 27 tahun. Mengapa demikian? Sebab dari sejumlah 50 orang Guru Matematika tersebut, yang paling banyak adalah berusia 27 tahun.
. Kuartil, Desil, Persentil
            Jika sekumpulan data dibagi menjadi empat bagian yang sama banyak, sesudah disusun menurut urutan nilainya , maka bilangan membaginya disebut kuartil. Ada tiga buah kuartil, ialah kuartil pertama, kuartil kedua, kuartil ketiga yang masing-masing disingkat Q1 , Q2, dan Q3 . pemberian nama ini, dimulai dari nilai kuartil paling kecil. Untuk menentukan nilai kuartil caranya adalah :
1.      Susun data menurut urutannya
2.      Tentukan letak kuartil
3.      Menentukan nilai kuartil
Letak kuartil ke-i diberi lambing K1 , ditentukan oleh rumus :
Letak Ki= data ke  
Dengan i=1,2,3
Contoh : sampel dengan data 75,82, 66,57, 64,56, 92,94, 86,52,60,70. Setelah disusun menjadi 52,56,57,60,64,66,70,75,82,86,92,94.
Letak K1= data ke  = data ke 3  , yaitu antara data ke -3 dan data ke-4
Nilai K1= data ke-3 + (data ke-4 – data ke-3)]
        K1= 57 + (60 – 57) = 57
Letak K3= data ke  = data ke 9  
           K3= data ke-9 +   (data ke-10 – data ke-9)
           K3 =82 +   (86-82) =85
Untuk data yang telah disusun dalam daftar distribusi frekuensi, Kuartil dihitung dengan rumus :
Qi = b + p ( )
Dengan i = 1,2,3
Dengan b = batas bawah kelas Ki , ialah kelas interval dimana Ki terletak
            P = panjang kelas Ki
F = jumlah frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari tanda kelas Ki
F = frekuensi kelas Ki
Kembali pada hasil ujian 80 mahasiswa seperti dalam tabel di bawah ini , maka untuk menentukan kuartil ketiga ,   x 80 = 60 data . b = 80.5 ;p=10; f=20; F=48. Dengan i=3 dan n=80 maka
K3 = 80.5 + 10( )
K3 = 86.5
Tabel hasil ujian 80 mahasiswa
Nilai Ujian
fi
31-40
41-50
51-60
61-70
71-80
81-90
91-100
1
2
5
15
25
20
12
Jumlah
80

Ini berarti ada 75% mahasiswa yang mendapat nilai ujian paling tinggi 86.5 sedangkan 25%  lagi mendapat nilai paling rendah.
Jika kumpilan data itu dibagi menjadi 10 bagian yang sama maka didapat Sembilan pembagi dan setiap pembagi dinamakan desil. Kerananya ada sembilan buah desil, ialah desil pertama, desil kedua,…., desil kesembilan yang disingkat dengan d1,, d2,…,d9 . desil-desil ini dapat ditentukan dengan jalan :
1.      Susun data menurut susunan nilainya
2.      Tentukan letak desil
3.      Tentukan nilai desil
Letak desilke-I diberi lambing di , ditentukan oleh rumus :
Letak d1 = data ke
Dengan i=1,2,…,9
Contoh : untuk data yang disusun dalam contoh terdahulu, ialah : 52,56,57,60,64,66,70,75,82,86,92,94, maka letak  d7 = data ke  = data ke-9,1
Nilai d7 = data ke-9 + (0,1) (data ke-10 – data ke-9)
        d7  = 82 + (0,1)(86-82) = 82,4
untuk data dalam distribusi frekuensi
di  = b + p ( )
dengan i=1,2,…,9
dengan b = batas bawah kelas di , ialah kelas interval dimana di akan terletak
            P = panjang kelas di
F = jumlah frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari tanda kelas di
F = frekuensi kelas di
Jika diminta d3 unuk 80 nilai ujian statistika, maka kita perlu 30% x 80 = 24 data. b=60.5; p=10; f=15; F=8 .dengan i=3 dan n=80, maka didapat
d3 = 60.5 + 10( )
d3 = 71,2
Jika sekumpulan data tersebut dibagi menjadi 100 bagian yang sama akan menghasilkan 99 pembagi yang dinamakan persentil yang dilambangkan dengan P.
 Letak Persentil Pi untuk sekumpulan data ditentukandengan rumus :
Pi = data ke
dengan i=1,2,…,99
sedangkan nilai Pi untuk data dalam daftar distribusi frekuensi dihitung dengan :
Pi  = b + p ( )
dengan i=1,2,…,99
dengan b = batas bawah kelas Pi , ialah kelas interval dimana Pi terletak
            P = panjang kelas Pi
F = jumlah frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari tanda kelas Pi
f = frekuensi kelas Pi
DAFTAR PUSTAKA

Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta :PT Raja Grafindo Persada
Sudjana. 2002.Metoda Statistika.Bandung : TARSITO
Harahap, B. dan ST. Negoro.1998. Ensiklopedia Matematika. Ghalia Indonesia
Dajan, Anto.1986. Pengantar Metode Statistik Jilid I. Jakarta :LP3ES

Tidak ada komentar:

Posting Komentar