BAB 7. PENGUJIAN HIPOTESIS
Pengertian
Hipotesis
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk
menjelaskan hal itu yang sering dituntut
untuk melakukan pengecekannya. (dalam penelitian hipotesis dapat diartikan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian). Jika asumsi itu atau
dugaan itu dikhususkan mengenai populasi, umumnya mengenai nilai-nilai
parameter populasi, maka hipotesis itu disebut
hipotesis statistik. kecuali
dinyatakan lain, di sini dengan hipotesis dimaksudkan hipotesis statistik.
Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar dan karenanya perlu diadakan
penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur
untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis dinamakan pengujian hipotesis
Dalam
dunia akademik, suatu masalah terlebih dahulu
dijawab secara teoritik. Berdasarkan konsep teoritik tersebut maka
dapat diajukan suatu hipotesis. Dengan hipotesis tersebut suatu
masalah sudah dapat dijawab, tetapi jawaban masih
bersifat teoritik dan bersifat sementara. Oleh sebab
itu, diperlukan data lapangan untuk memastikan kebenaran hipotesis
yang diajukan. Kebenaran hipotesis tergantung
pada analisis data lapangan. Hipotesis yang diajukan
dapat diterima kebenarannya jika analisis
data lapangan sesuai dengan teori. Sebaliknya
jika analisis data lapangan bertolak belakang (berbeda) dengan teori,maka
hipotesis yang diajukan dapat ditolak.
Hipotesis
dapat bersifat Kuantitatif dan dapat bersifat Kualitatif. Secara statistik,
hipotesis yang bersifat kualitatif tidak dapat diuji, sedangkan yang dapat
diuji adalah hipotesis yang bersifat kuantitatif. Hipotesis yang demikian,
disebut Hipotesis Statistik (Statistical Hypothesis) karena selain harus
disajikan dalam bentuk angka, hipotesis statistik juga merupakan pernyataan
tentang bentuk fungsi yang menggambarkan hubungan antar variabel yang diteliti.
Secara
statistika terdapat dua macam hipotesis, yaitu :
• Hipotesis
Nol (Null Hypothesis) yang diberi symbol dengan Ho, dan
• Hipotesis
Alternatif (Alternative Hypothesis) yang diberi symbol dengan Ha.
Ho
menyatakan tidak ada perbedaan antara statistik sampel dengan parameter
populasi atau tidak ada hubungan antara dua variabel atau lebih. Ha menyatakan
terdapat perbedaan antara statistik sampel dengan parameter populasi atau
terdapat hubungan antara dua variabel atau lebih.Dalam merumuskan suatu
hipotesis, agar hipotesis yang diajukan dapat diuji atau dianalisis maka yang
perlu mendapatkan perhatian adalah bahwa hipotesis hendaknya :
a)Menyatakan
hubungan antara dua variabel atau lebih;
b)Dinyatakan
dalam kalimat pernyataan;
c)Dirumuskan
secara jelas dan padat (sistematik); dan
d)Dapat
diuji kebenarannya berdasarkan data lapangan.
Kesalahan
dalam Pengujian Hipotesis
Dalam melakukan
pengujian hipotesis, ada dua macam
kekeliruan yang dapat terjadi, dikenal dengan nama-nama:
a) Kekeliruan tipe I : ialah
menolak hipotesis yang seharusnya diterima,
b) Kekeliruan tipe II : ialah menerima hipotesis yang seharusnya ditolak.
Untuk
meningkatkan hubungan antara hipotesis, kesimpulan dan tipe kekeliruan, dapat
dilihat dalam tabel di bawah ini.
DAFTAR VI (1)
TIPE KEKELIRUAN KETIKA MEMBUAT
KESIMPULAN
TENTANG HIPOTESIS
KESIMPULAN
|
KEADAAN SEBENARNYA
|
|
HIPOTESIS BENAR
|
HIPOTESIS SALAH
|
|
Terima Hipotesis
|
BENAR
|
KELIRU
(Kekeliruan Tipe II)
|
Tolak Hipotesis
|
KELIRU
(Kekeliruan Tipe I)
|
BENAR
|
Ketika merencanakan suatu penelitian dalam rangka pengujian hipotesis, jelas
kiranya bahwa kedua tipe kekeliruan itu harus dibuat sekecil mungkin. Agar
penelitian dapat dilakukan maka kedua tipe kekeliruan itu kita nyatakan dalam
peluang. Peluang membuat kekeliruan tipe I biasa dinyatakan dengan a (baca :
alfa) dan peluang membuat kekeliruan tipe II dinyatakan dengan b (baca :
beta). Berdasarkan ini, kekeliruan tipe I dinamakan pula kekeliruan a dan
kekeliruan tipe II dikenal dengan kekeliruan
b.
Dalam penggunaanya, a disebut pula taraf
signifikan atau taraf arti atau
sering disebut pula taraf nyata.
Besar kecilnya a dan b yang dapat diterima dalam pengambilan kesimpulan
bergantung pada akibat-akibat atas diperbuatnya kekeliruan-kekeliruan itu.
Selain daripada itu perlu pula dikemukakan bahwa kedua kekeliruan itu saling
berkaitan. Jika a diperkecil, maka b menjadi besar dan sebaliknya. Pada dasarnya, harus
dicapai hasil pengujian hipotesis yang baik, ialah pengujian yang bersifat
bahwa di antara semua pengujian yang dapat dilakukan dengan harga a yang sama
besar, ambillah sebuah yang mempunyai kekeliruan b paling kecil.
Prinsip demikian memerlukan pemecahan matematik yang sudah keluar dari tujuan
buku ini. Karenanya, untuk keperluan praktis, kecuali dinyatakan lain, a akan
diambil lebih dahulu dengan harga yang biasa digunakan, yaitu a = 0,01 atau
a = 0,05.
Dengan a = 0,05
misalnya, atau sering pula disebut taraf nyata 5%, berarti kira-kira 5 dari
tiap 100 kesimpulan bahwa kita akan menolak hipotesis yang seharusnya diterima.
Dengan kata lain kira-kira 95% yakin bahwa kita telah membuat kesimpulan yang
benar. Dalam hal demikian dikatakan bahwa hipotesis
telah ditolak pada taraf nyata 0,05 yang berarti kita mungkin salah dengan
peluang 0,05.
Cara
Pengujian Hipotesis
1. Menentukan Formulasi Hipotesis
1. Menentukan Formulasi Hipotesis
Formulasi atau perumusan hipotesis statistik dapat
dibedakan atas dua jenis, yaitu sebagai berikut :
a. Hipotesis
nol atau hipotesis nihil
Hipotesis nol, disimbolkan H0
adalah hipotesis yang dirumuskan sebagai suatu pernyataan yang akan diuji.
b. Hipotesis alternatif atau hipotesis
tandingan
Hipótesis alternatif disimbolkan H1 atau Ha
adalah hipotesis yang
dirumuskan sebagai lawan atau tandingan
dari hipotesis nol.
Secara umum, formulasi hipotesis dapat
dituliskan :
H0 : q = q0
H1 : q > q0
Pengujian ini disebut pengujian sisi kanan
H0 : q = q0
H1 : q < q0
Pengujian ini disebut pengujian sisi kiri
H0 : q = q0
H1 : q ¹ q0
Pengujian ini disebut pengujian dua sisi
2. Menentukan Taraf Nyata
(Significant Level)
Taraf nyata adalah
besarnya batas toleransi dalam menerima kesalahan hasil hipotesis terhadap nilai parameter populasinya. Taraf nyata
dilambangkan dengan a (alpha). Semakin tinggi taraf nyata yang
digunakan, semakin tinggi pula penolakan hipotesis nol atau hipotesis yang
diuji, padahal hipotesis nol benar. Besarnya nilai a bergantung pada keberanian
pembuat keputusan yang dalam hal ini berapa besarnya kesalahan yang akan
ditolerir. Besarnya kesalahan tersebut disebut sebagai daerah kritis pengujian
(critical region oftest) atau daerah penolakan (region of rejection).
3.
Menentukan Kriteria Pengujian
Kriteria pengujian
adalah bentuk pembuatan keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis nol
(H0) dengan cara membandingkan nilai a table distribusinya (nilai kritis)
dengan nilai uji statistiknya, sesuai dengan bentuk pengujiannya.
a. Penerimaan H0 terjadi jika nilai uji
statistiknya lebih kecil atau lebih
besar daripada nilai
positif atau negatif dari a tabel. Atau nilai uji
statistik berada di luar
nilai kritis.
b. Penolakan H0 terjadi jika nilai uji
statistiknya lebih besar atau lebih
kecil daripada nilai
positif atau negatif dari a tabel. Atau nilai uji
statistik berada di
dalam nilai kritis.
4. Menentukan
Nilai Uji Statistik
Uji statistik merupakan
rumus-rumus yang berhubungan dengan distribusi tertentu dalam pengujian
hipotesis. Uji statistik merupakan perhitungan untuk menduga parameter data
sampel yang diambil secara random dari sebuah populasi.
5. Membuat
Kesimpulan
Pembuatan kesimpulan
merupakan penetapan keputusan dalam hal penerimaan atau penolakan hipotesis nol
(H0), sesuai dengan kriteria pengujiannya. Pembuatan
kesimpulan dilakukan setelah membandingkan nilai uji statistik dengan nilai a
tabel atau nilai kritis.
a. Penerimaan H0 terjadi
jika nilai uji statistik berada diluar nilai kritisnya
b. Penolakan H0 terjadi jika nilai uji
statitik berada di dalam nilai kritisnya
Dalam penelitian, hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara
terhadap rumusan masalah dalam penelitian. Jika dugaan itu dikhususkan mengenai
populasi, maka umumnya mengenai nilai-nilai parameterlah yang digunakan untuk
menduganya atau disebut hipotesis statistic.
Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar dan karenanya perlu diadakan
penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur
untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis dinamakan pengujian
hipotesis.
Cara
penentuan wilayah kritis
1. uji dua arah
Jika H1 ≠
parameter, maka dalam distribusi yang digunakan, normal untuk angka z, Student
untuk t, F, Chi-Square dan lainnya, diperoleh dua daerah kritis masing-masing
pada ujung-ujung distribusi. Luas daerah kritis atau daerah penolakan pada tiap
ujung adalah ½a. Karena adanya dua daerah penolakan ini, maka pengujian
hipotesis dinamakan uji dua arah.
Ho : µ = µo
Ho : µ = µo
H1 : µ ≠ µo
Ilustrasi penolakan uji dua arah
2. uji
satu arah (Kanan)
Untuk H1 > parameter, maka dalam
distribusi yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang letaknya di ujung
sebelah kanan. Luas daerah kritis atau daerah penolakan ini sama dengan a.
Pengujian ini dinamakan uji satu pihak, tepatnya pihak kanan.
Ho : µ = µo
Ho : µ = µo
H1 : µ > µo
Ilustrasi uji satu arah (Kanan)
3. Uji satu arah
(Kiri)

Ho : µ = µo
H1 : µ < µo
Ilustrasi uji satu arah (Kiri)
CONTOH :

Pernyataan yang
hendak diuji adalah : “berat isi semen 40 kg”. dalam pernyataan yang terkandung
pengertian kesamaan, yakni “target berat = 40kg”. jadi, pernyataan itu
merupakan hipotesis H0. alternative H1 berupa sanggahannya oleh karena itu,
a. Rumusan H0
dan H1 adalah sebagai berikut :
H0 : Target berat = 40 kg
H1 : Target berat ≠ 40 kg
b. Rumusan H0 dan H1 secara
statistic
“Target berat” secara statistic
berarti “tyaraf populasi berat isi semen µ”. Jadi, terjemahan statistic untuk
H0 dan H1 adalah H0 : µ = 40 dan H1 : µ ≠ 40
Kegunaan Hipotesis
Kegunaan hipotesis antara lain :
- Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang
- Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian
- Hipotesis memberikan arah kepada penelitian
- Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan lesimpulan penyelidikan
Ciri-ciri Hipotesis
Cirri-ciri hipotesis yang baik :
- Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
- Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diaantara variable-variabel
- Hipotesis harus dapat diuji
- Hipotesis hendaknya konsistensi dengan pengetahuan yang sudah ada
- Hipotesis hendaknya dinyatakan sederhana dan seringkas mungkin
Menggali dan Merumuskan Hipotesis
Dalam menggali hipotesis, peneliti harus :
- Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literature-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
- Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki
- Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.
Sebagai kesimpulan, maka beberapa
petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut :
- Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik
- Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif dan berbentuk pernyataan
- Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variable yang dapat diukur
- Hendaknya dapat diuji
- Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori
SUMBER :
http://cerdaskan.com/langkah-langkah-pengujian-hipotesis.html
http://detapujik.blogspot.com/2012/04/uji-hipotesis-satu-rata-rata.html
http://webmail.informatika.org/~rinaldi/Probstat/2010-2011/Pengujian%20Hipotesis.pdf
http://materi-paksyaf.blogspot.com/2012/11/uji-hipotesis.html
http://mtk10ayufarida.blogspot.com/2012/05/uji-hipotesis.html
http://materi-paksyaf.blogspot.com/2012/11/uji-hipotesis.html
http://mtk10ayufarida.blogspot.com/2012/05/uji-hipotesis.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar